Minggu, 07 November 2010

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL DAN MAKHLUK EKONOMI YANG BERMORAL

Manusia tercipta sebagai makhluk yang paling sempurna, karena manusia dibekali kemampuan berpikir yang  lebih dinamis. Berbeda dengan binatang yang hanya dibekali naluri atau kemampuan berpikir yang stagnan walaupun sama-sama memiliki otak.
Manusia memiliki kebutuhan yang lebih rumit dibandingkan hewan. Contoh yang paling sederhana yaitu dalam hal makan, pada umumnya hewan akan makan makanan yang biasa dimakannya, tetapi manusia akan memakan lebih dari yang sekedar mereka butuhkan. Dapat pula dicontohkan hal yang lain, yaitu untuk tempat tinggal, seekor burung cukup membuat sarang - yang dari dulu dibuat seperti itu - dari bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat sarang sesuai jenis burung itu, tetapi manusia akan membuat tempat tinggal yang lebih dari sekedar tempat tinggal.

A. Manusia sebagai Makhluk Sosial
Namun dari kesempurnaan penciptaan manusia, tetap saja, manusia memiliki suatu kekurangan yaitu tidak dapat hidup tanpa manusia yang lain. Semenjak manusia lahir, sudah memerlukan bantuan orang lain, Kemudian selama perkembangan dalam kehidupannya, juga memerlukan bantuan orang lain. Untuk mencukupi kebutuhannya, seseorang tidak akan menanam padi sendiri, menuai sendiri, menggiling sendiri, menanak nasi sendiri, membuat periuk sendiri, menggali sumur sendiri, atau mencari ikan untuk diasinkan sendiri. Apalagi ketika meninggal, setiap orang jelas memerlukan bantuan orang lain.
Keadaan yang demikian itu, manusia merupakan makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia lain atau makhluk yang hidup dalam suatu masyarakat. Dalam istilah yang lebih populer manusia adalah homo socius. Homo, diartikan sebagai manusia, socius berarti masyarakat.

B. Manusia sebagai Makhluk Ekonomi
Selain dikenal sebagai makhluk sosial (homo socius) - dimana manusia harus hidup berdampingan dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya - manusia juga dikenal dengan sebutan homo economicus, yaitu manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya.
Homo economicus merupakan istilah Latin yang berarti bahwa manusia adalah makhluk ekonomi. Manusia disebut sebagai makhluk ekonomi karena manusia selalu berpikir tentang upaya untuk memenuhi kebutuhannya semaksimal mungkin dengan sumber daya yang tersedia.
Sebagai makhluk ekonomi, manusia akan cenderung mengedepankan kepentingan pribadinya. Manusia akan berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan pribadinya, berhemat dalam pengeluaran serta sedapat mungkin memperoleh keuntungan. Bahkan sering kali dalam usaha itu  orang mengesampingkan kerugian-kerugian yang dialami oleh orang lain.
Misalnya, untuk memperoleh laba yang lebih besar, seorang pedagang berbohong tentang kualitas barang
dagangan. Pedagang mengurangi timbangannya agar berat barang dagangan yang dijual berkurang dari yang seharusnya. Mungkin kamu juga pernah mendengar beredarnya makanan yang mengandung boraks atau formalin sebagai bahan pengawet. Tentu hal ini sangat merugikan pembeli karena formalin dan boraks merupakan zat yang membahayakan kesehatan manusia. Pedagang dan produsen seperti itu hanya mementingkan diri sendiri dalam rangka memperoleh laba sebesar-besarnya, tetapi tidak memperdulikan keselamatan dan kepentingan pembeli.

C. Makhluk Sosial dan Makhluk Ekonomi yang Bermoral
Manusia dituntut untuk mampu menyeimbangkan peranannya sebagai makhluk ekonomi dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat. Di satu sisi, manusia adalah makhluk ekonomi yang mengharapkan keuntungan
bagi dirinya. Di sisi lain, manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk peduli dengan orang lain. Manusia tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Contohnya, di rumah seorang anak memakan semua makanan tanpa memperdulikan saudara dan orang tuanya. Dalam hal ini, ia memang telah memenuhi tuntutannya sebagai makhluk ekonomi, yaitu memenuhi kebutuhan. Akan tetapi ia lupa pada perannya sebagai makhluk sosial, yaitu peduli dengan orang lain.
Demikian juga, pelaku usaha harus peduli dengan kehidupan sosial dan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi semata. Pelaku usaha harus mampu melihat bisnis sebagai peluang untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dan berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bentuk peran perusahaan dalam kegiatan sosial antara lain memberi bantuan beasiswa, membentuk yayasan pendidikan, dan membantu korban bencana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar